Jumat, 1 Oktober 2027
S. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus
Peringatan WajibBacaan Misa
Bacaan Pertama Barukh 1:15-22
pada sekalian raja kami, para pemimpin, para imam dan nabi serta pada nenek moyang kami. Memang kami telah berdosa kepada Tuhan. Kami tidak taat kepada-Nya dan tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, untuk mengikuti segala ketetapan Tuhan yang telah ditaruh-Nya di hadapan kami. Semenjak hari Tuhan membawa nenek moyang kami keluar dari negeri Mesir hingga dengan hari ini kami tidak taat kepada Tuhan, Allah kami. Sebaliknya Tuhan telah kami alpakan karena tidak mendengarkan suara-Nya. Dari sebab itu maka melekatlah kepada kami semua bencana dan laknat yang telah diperintahkan Tuhan kepada Musa, hamba-Nya, waktu nenek moyang kami dibawa-Nya keluar dari negeri Mesir untuk dianugerahkan-Nya kepada kami suatu tanah yang berlimpah susu dan madunya, sebagaimana halnya hari ini. Tetapi kami tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, sesuai dengan firman para nabi yang telah Tuhan utus kepada kami. Bahkan kami telah pergi berbakti kepada allah lain, masing-masing menurut angan-angan hati jahatnya, dan kami melakukan apa yang durjana dalam pandangan Tuhan, Allah kami.
Mazmur Tanggapan Mazmur 79:1-5,8-9
Bacaan Injil Lukas 10:13-16
"Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."
Renungan
Bunga di Pinggir Pagar
Di pinggir pagar rumah sering tumbuh bunga liar. Kecil. Tidak ditanam siapa-siapa. Tetapi tiap pagi ia mekar juga, entah ada yang melihat atau tidak. Ia tidak menuntut ditonton. Mekar memang sudah tugasnya.
Kemarin kita mendengar Yesus mengutus tujuh puluh murid dengan pesan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Hari ini nada-Nya berubah keras. Khorazim, Betsaida, Kapernaum, kota-kota yang menyaksikan mukjizat paling banyak, justru dikecam. Mereka melihat, tetapi tidak mendengarkan. Mereka dekat, tetapi tidak berbalik.
Hari ini Gereja mengenang Teresia dari Kanak-Kanak Yesus. Ia menyebut dirinya bunga kecil. Hidupnya singkat, dua puluh empat tahun saja, sebagian besar di balik tembok biara, tanpa mukjizat besar, tanpa panggung. Tetapi ia melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar: mencuci pakaian, merawat suster yang menjengkelkan, tersenyum ketika ingin mengeluh. Kota-kota megah itu ditegur, biarawati muda itu diangkat menjadi pujangga Gereja. Aneh? Justru itulah logika Injil.
Bukan besarnya yang dihitung, tetapi dengarnya. Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku, kata Yesus. Pertanyaannya sederhana: suara Tuhan hari ini datang lewat siapa, dan maukah kita mendengarkannya?
Tuhan, jadikan aku kecil dan penuh cinta seperti Teresia, agar telingaku selalu terbuka bagi-Mu. Amin.
Invitatorium
JUMAT II PAGI
Pembukaan
Ant. Amat baiklah Tuhan, pujilah namaNya.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Amat baiklah Tuhan, pujilah namaNya.
Ibadat Bacaan
MADAH
Ant. 1 Tuhan, Engkaulah penyelamat kami; kami akan memuji-Mu selama-lamanya.
Mazmur 44
Kemalangan umat Allah
Kita mengalahkan semua ini melalui Dia yang mengasihi kita (Roma 8:37).
Ant. Tuhan, Engkaulah penyelamat kami; kami akan memuji-Mu selama-lamanya.
Ant. 2 Ampunilah kami, ya Tuhan; janganlah Engkau menghina umat-Mu sendiri.
Ant. Ampunilah kami, ya Tuhan; janganlah Engkau menghina umat-Mu sendiri.
Ant. 3 Bangkitlah, ya Tuhan, dan selamatkanlah kami, karena Engkau berbelas kasihan.
Ant. Bangkitlah, ya Tuhan, dan selamatkanlah kami, karena Engkau berbelas kasihan.
BACAAN
RESPONSORIUM Filipi 3:8, 10; Roma 6:8
RESPONSORIUM Mazmur 91:11-12, 10
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Madah
Ant.1: Hati yang remuk redam takkan Kautolak, ya Allah.
Mazmur 50 (51)
Ant.1: Hati yang remuk redam takkan Kautolak, ya Allah.
Ant.2: Bila Engkau murka, ya Tuhan, ingatlah akan kerahimanMu.
Hab 3,2-4.13a.15-19
Ant.2: Bila Engkau murka, ya Tuhan, ingatlah akan kerahimanMu.
Ant.3: Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem.
Mazmur 147 (147B)
Ant.3: Megahkanlah Tuhan, hai Yerusalem.
Ant.Kidung: Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan; Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Allah kita penuh rahmat dan belaskasihan; Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
JUMAT II SIANG
Madah
Ant.1: Semoga kasih setiaMu menghibur aku sesuai dengan janjiMu.
Mazmur 118 (119),73-80
Ant.1: Semoga kasih setiaMu menghibur aku sesuai dengan janjiMu.
Ant.2: Lindungilah aku terhadap serangan lawan, ya Allahku.
Mazmur 58 (59),2-6a.9-11.17-18
Ant.2: Lindungilah aku terhadap serangan lawan, ya Allahku.
Ant.3: Berbahagialah orang yang dihajar Allah, sebab sungguhpun Allah melukai, namun Ia menyembuhkan juga.
Mazmur 59 (60)
Ant.3: Berbahagialah orang yang dihajar Allah, sebab sungguhpun Allah melukai, namun Ia menyembuhkan juga.
Bacaan singkat (Keb 1,13-15)
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Sore
JUMAT II SORE
Madah
Ant.1: Tuhan, luputkanlah jiwaku dari maut dan kuatkanlah aku.
Ant.1: Tuhan, luputkanlah jiwaku dari maut dan kuatkanlah aku.
Ant.2: Pertolonganku dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Mazmur 120 (121)
Ant.2: Pertolonganku dari Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.
Ant.3: Adil dan benar segala tindakanMu, ya raja segala bangsa.
Why 15,3-4
Ant.3: Adil dan benar segala tindakanMu, ya raja segala bangsa.
Bacaan Singkat (Kor 2,7-10a)
Ant.Kidung: Ya Tuhan, ingatlah akan kasih sayangMu, menurut janjiMu kepada leluhur kami.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Ya Tuhan, ingatlah akan kasih sayangMu, menurut janjiMu kepada leluhur kami.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - JUMAT
Doa Tobat
Madah
Ant: Siang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 87 (88)
Ant: Siang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat (Yer 14,9)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
S. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus
Perawan dan Pujangga Gereja, Pelindung Karya Misi · 1873-1897
Marie Françoise Thérèse Martin lahir pada 2 Januari 1873 di Alençon, Prancis, anak bungsu dari lima bersaudari yang bertahan hidup. Kedua orang tuanya, Louis dan Zélie Martin, adalah pasangan saleh yang kelak juga diangkat menjadi santo dan santa. Ketika Teresia berumur empat tahun, ibunya wafat, dan keluarga itu pindah ke kota Lisieux. Sebagai anak bungsu yang manja dan mudah menangis, ia mengalami titik balik pada Malam Natal 1886, saat ia merasa dibebaskan dari kepekaan kekanak-kanakannya dan memperoleh kekuatan batin yang baru.
Sejak kecil Teresia sudah merindukan hidup membiara. Pada usia lima belas tahun, dengan izin khusus yang ia perjuangkan hingga menghadap Paus Leo XIII dalam sebuah audiensi di Roma, ia diterima masuk biara Karmel di Lisieux, tempat beberapa kakaknya telah lebih dahulu menjadi biarawati. Di balik tembok biara yang sunyi itu, ia menjalani hidup tersembunyi yang penuh doa, kurban kecil, dan cinta.
Dari pengalaman ini lahir ajaran yang membuatnya dikenang, yaitu Jalan Kecil (la petite voie). Teresia menyadari bahwa ia tidak akan pernah menjadi santa besar dengan perbuatan luar biasa. Maka ia memilih menjadi kudus dengan mempersembahkan hal-hal kecil sehari-hari, dilakukan dengan cinta yang besar dan kepercayaan penuh seperti seorang anak kepada Bapa. Atas perintah pemimpin biaranya, ia menuliskan kenangan hidupnya, yang setelah wafatnya diterbitkan sebagai Riwayat Sebuah Jiwa (Histoire d'une âme) dan menyentuh jutaan pembaca di seluruh dunia.
Menjelang akhir hidup, Teresia menderita tuberkulosis. Ia menanggung sakit dan kegelapan batin dengan iman yang gigih. Ia wafat pada 30 September 1897 di usia yang baru dua puluh empat tahun. Kata-katanya yang terkenal, Aku akan menghabiskan surgaku dengan berbuat baik di bumi, dan janjinya untuk menurunkan hujan mawar rahmat, terus menghidupi devosi umat.
Ia dikanonisasi oleh Paus Pius XI pada 17 Mei 1925, dan pada 1927 dinyatakan sebagai pelindung karya misi bersama Santo Fransiskus Xaverius, meski ia sendiri tak pernah meninggalkan biaranya. Pada 19 Oktober 1997 Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya menjadi Pujangga Gereja, perempuan termuda yang pernah menerima gelar itu.
Pelindung: karya misi, para misionaris, penderita tuberkulosis, penerbang, pekerja bunga, dan Prancis.
Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus
Perawan dan Pelindung Karya Misi
Maria Francoise Therese Martin lahir di Alencon, Prancis pada tanggal 2 Januari 1873. Theresia adalah puteri bungsu dari keluarga saleh Louis Martin dan Azelie Guerin. Ayahnya seorang pembuat arloji di kota Alencon. Sepeninggal isterinya, ia bersama anak-anaknya pindah ke Lisieux. Kematian ibunya menimbulkan shock besar pada Theresia sebagai puteri bungsu. Terpaksa kakaknya, Pauline, menggantikan kedudukan ibunya untuk merawat dan memperhatikan perkembangannya.
Theresia sangat dikasihi ayahnya. Ia diberi macam-macam julukan: 'Theresia Kecil', 'Bungsu Kecil' dan 'Ratu Kecil'. Pada tahun 1881 sampai 1885, ia belajar di sekolah Suster-suster Benediktin. Ia sangat perasa dan cepat menangis sehingga teman-temannya tidak akrab dengannya. Ia semakin menjadi perasa sewaktu kakaknya Pauline masuk biara Karmelit di Lisieux pada bulan Oktober 1882. Theresia jatuh sakit karena keberangkatan Pauline itu. Theresia disembuhkan secara ajaib. Sementra kakak-kakaknya berlutut disamping tempat tidurnya untuk berdoa bagi kesembuhannya, patung Bunda Maria yang berada di depannya tiba-tiba tersenyum padanya. Penyakit itu hilang seketika meskipun sifat perasa masih tetap ada. Sifat itu baru mulai hilang karena nasehat ayahnya ketika mereka menghadiri upacara malam Natal tahun 1886. Semenjak itu, ia mulai semakin sadar akan keburukan dari sifatnya yang manja dan lekas tersinggung itu. Ia sadar bahwa ia sudah mulai remaja dan lebih dari itu bahwa sifat kekanak-kanakan itu tidak cocok bagi seorang wanita yang bercita-cita menjadi suster. Saat kesadarannya ini - kemudian dalam autobiografinya - disebutnya sebagai saat ber-rahmat yang mengawali kehidupannya yang baru. Katanya dalam buku itu: "Yesuslah yang merubah diriku."
Semenjak itu ia mulai sadar bahwa dirinya dipenuhi karunia Roh Kudus. Ia sadar pula bahwa dia harus mengabdikan seluruh-hidupnya kepada Tuhan. Kerinduannya untuk bersatu dengan Kanak-kanak Yesus sangatlah besar, dan karena itu di kemudian hari setelah ia digelari 'kudus', ia dinamai 'Theresia dari Kanak-kanak Yesus' dan Theresia dari Lisieux'. Kepada Yesus ia berjanji tidak akan pernah segan melakukan apa saja yang dikehendaki Tuhan dari padanya.
Kerinduannya itu terungkap dalam salah satu doanya berikut ini: "Yesus, tentu Engkau senang mempunyai mainan. Biarlah saya menjadi mainanMu! Anggap saja saya ini mainanMu. Bila akan Kauangkat, betapa senang hatiku. Jika hendak Kausepak kian kemari, silakan!' Dan kalau hendak Kautinggalkan di pojok kamar lantaran bosan, boleh saja. Saya akan menunggu dengan sabar dan setia. Tetapi kalau hendak Kautusuk bolaMu. . .O, Yesus, tentu itu sakit sekali, namun terjadilah kehendakMu!" Inilah doa Theresia Martin kepada Kanak-kanak Yesus yang sangat dirindukannya tetapi belum bisa disambutnya karena umurnya baru 7 tahun.
Orangtua Theresia baik sekali terhadapnya bersama saudara-saudaranya yang lain. Mereka semua - ada lima orang - menjadi suster. Betapa bahagia hati Theresia, ketika pada umur 12 tahun boleh menyambut Tubuh Yesus untuk pertama kalinya. Di hadapan sebuah salib, ia berjanji: "Yesus di kayu salib yang haus, saya akan 'memberikan air kepadaMu. Saya bersedia menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat." Pendosa pertama yang bertobat berkat doa Theresia ialah seorang penjahat kakap yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesal, namun akhirnya ia bertobat juga di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukuman.
Kerinduan Theresia yang begitu besar pada Yesus mendesak dia untuk menjalani kehidupan khusus sebagai seorang biarawati, mengikuti teladan 4 orang saudaranya yang sudah lebih dahulu menjadi suster. Tetapi ia belum bisa diterima karena umurnya baru 14 tahun. Ia tidak putus asa. Ia. berziarah ke Roma bersama orangtuanya. Dalam audiensi umum dengan Bapa Suci, ia dengan berani meminta izin khusus dari Bapa Suci untuk menjadi suster. Permintaannya itu dikabulkan dan dia boleh masuk biara pada umur 15 tahun. Ia diterima dalam biara Suster-suster Karmelit di Lisieux, Prancis. Kedua kakaknya sudah lebih dahulu di biara itu. Sembilan tahun lamanya, ia hidup sebagai suster biasa. Sebagaimana suster muda lainnya, ia melaksanakan tugas dan doa harian, harus mengatasi perasaan tersinggung, marah, rasa iri hati dan memerangi kebosanan serta bermacam ragam godaan lahir maupun batin. Untuk mencapai kesempurnaan hidup, ia memilih 'jalan sederhana' berdasarkan ajaran Kitab Suci: hidup selaku seorang anak kecil, penuh cinta dan iman kepercayaan akan Allah dan penyerahan diri yang total dengan perasaan gembira. Demi cita-cita itu, ia melakukan hal-hal kecil dan kewajiban-kewajiban sehari-hari dengan penuh tanggungjawab karena cinta kasihnya yang besar kepada Allah Bapa di surga.
Ia sedih sekali melihat banyak orang menyakiti hati Yesus dengan berbuat dosa dan tidak mau bertobat. Untuk mempertobatkan orangorang berdosa itu, ia mempersembahkan dirinya sebagai korban penyilih dosa-dosa. Ia rajin berdoa dan melakukan tapa bagi semua orang berdosa. Ia juga berdoa bagi para misionaris dan kemajuan Kerajaan Allah di seluruh dunia.
Theresia akhirnya menderita sakit paru-paru yang parah. Selama dua tahun lamanya ia menanggung beban penderitaan itu dengan gembira. Penyakit ini kemudian merengut nyawanya pada tanggal 30 September 1897 di biara Lisieux. Sebelum menghembuskan nafasnya, ia berjanji untuk menurunkan hujan mawar ke dunia. Janji ini benar terpenuhi karena banyak karunia Allah diberikan kepada semua orang yang berdoa dengan perantaraannya.
Theresia meninggal dunia dalam usia yang sangat muda, 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadinya yang ditulis atas permintaan ibu biara: "Kisah suatu Jiwa." Di dalamnya ia menunjukkan bahwa kesucian hidup dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa orang itu. Caranya ialah melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Theresia adalah seorang Suster Karmelit yang terkenal di Prancis pada abad 20. Pada tahun 1925, ia digelari sebagai 'santa' oleh Paus Pius XI (1922-1939) dan diangkat sebagai 'Pelindung Karya Misi Gereja'. Kemudian oleh Paus Pius XII (1939-1958), Theresia diangkat sebagai 'Pelindung Prancis'.
Santo Remigius
Uskup dan Pengaku Iman
Remi atau Remigius lahir di Prancis pada tahun 435. Pada umur 22 tahun, ia dipilih umat menjadi Uskup Reims, Prancis. Pilihan umat ini diterimanya dengan perasaan enggan karena ia merasa dirinya tidak layak. Tetapi di kemudian hari dalam seluruh hidupnya sebagai uskup terbukti bahwa pilihan umat atas dirinya sesungguhnya merupakan suara Tuhan sendiri.
Uskup Remi berbadan tinggi, bersikap tenang dan agung, ramah dan lembut terhadap siapa saja yang ditemuinya. Ia juga pintar, pandai berkotbah, dan murah hati terutama kepada orang-orang miskin. Sebagai uskup, ia berusaha sekuat tenaga untuk membawa bangsa Prancis, yang sebagian besar masih kafir ke pangkuan Kristus. Untuk itu tidak mengesampingkan pendekatan dan hubungan yang baik dengan raja dan para bangsawan Prancis. Ia berhasil dalam usaha kerasulan dan penginjilan bangsa Prancis itu, berkat doa dan teladan hidupnya, kotbahnya yang menyentuh hati umat, dan semua mujizat yang dilakukannya dalam nama Kristus Tuhan.
Pada malam Natal tahun 496 ia mempermandikan Raja Prancis, Klovis I bersama 3000 orang pembantunya. Remi memimpin keuskupannya selama 70 tahun lebih. Ketika ia meninggal dunia pada tahun 534 sebagian besar warga kerajaan Prancis sudah dikristenkan olehnya. Oleh karena itu ia diberi gelar 'rasul' negeri Prancis.
Santo Romanus dari Italia
Pertapa
Romanus dikenal sebagai seorang pertapa dan biarawan yang hidup di gurun pasir dekat Subiaco. Ia sangat berjasa kepada Santo Benediktus yang sedang mencari jalan kesempurnaan hidup di padang pasir dekat pegunungan Subiaco. Romanus-lah yang memberikan bimbingan dan nasehat serta menunjukkan kepada Benediktus gua pertapaan yang jauh dari keramaian. Selama Benediktus bertapa di gua itu, Romanus yang menghantarkan makanan kepadanya.
Konon Romanus pergi ke Auxere, Prancis untuk membebaskan bangsa Vandal yang membanjiri Italia. Di sana ia mendirikan biara Fontauge. Ia wafat pada tahun 550 dan relikuinya disimpan di Auxere Sens dan Vareilles